HMI Gelar LK1 di Maroko, akan Buka Sejumlah Cabang Luar Negeri


Dibaca: 5629 kali 
Minggu,05 Agustus 2018
HMI Gelar LK1 di Maroko, akan Buka Sejumlah Cabang Luar Negeri Ketua Umum PB HMI Respiratori Saddam Al Jihad (kiri) dan Al Gozali (tengah) serta pembina anggota saat di Maroko.
RADARBISNIS.CO.ID. - Organisasi mahasiswa Islam terbesar dan tertua di Indonesia, yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hari ini, Sabtu (4/8/2018), menggelar rekrutmen kader atau Latihan Kader (LK) 1 di Maroko. 
 
Ketua Umum Pengurus Besar (PB) HMI, Respiratori Saddam Al Jihad dalam keterangan videonya yang diterima TILIK.ID mengatakan, sedikitnya ada 32 mahasiswa di Maroko yang mengikuti LK1 ini. 
 
“LK  ada 32 orang (mahasiswa) mudah-mudahan mereka terus semangat,” kata pria kelahiran Tanjung Karang Lampung itu.
 
Selain itu, dalam video yang berdurasi 45 detik yang dikirim langsung dari Maroko, Sadam mengatakan, meski ini baru LK1, namun hebatnya peserta LK1 HMI Maroko akan dipandu langsung oleh Pembina Anggota (PA) PB HMI.
 
Dalam video dengan latarbelakang Masjid Asani Maroko itu, salah satu peserta LK HMI, Al-Ghozali,  mengajak seluruh mahasiswa Islam di Maroko untuk bergabung di HMI.
 
Sebab, pelaksanaan LK1  ini juga menjadi prasarat untuk mendirikan HMI cabang luar negeri. 
 
“Seluruh mahasiswa Islam di Maroko mari bergabung di HMI,” kata Ghozali, salah satu mahasiswa Islam Maroko. 
 
Dalam kesempatan itu, Ghozali juga memberikan semangat dengan kata-kata yang sering dilantangkan kader HMI di seluruh Indonesia:  Yakusa, atau Yakin Usaha Sampai.
 
Untuk diketahui,  HMI adalah organisasi mahasiswa yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 5 Februari 1947, atas prakarsa Lafran Pane beserta 14 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (sekarang Universitas Islam Indonesia).
 
Sebelum lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam, terlebih dulu berdiri organisasi kemahasiswaan bernama Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) pada tahun 1946 yang beranggotakan mahasiswa dari tiga Perguruan Tinggi di Yogyakarta, yaitu Sekolah Tinggi Teknik (STT), Sekolah Tinggi Islam (STI) dan Balai Perguruan Tinggi Gajah Mada yang pada waktu itu hanya memiliki Fakultas Hukum dan Fakultas Sastra.
 
Oleh karena Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta dirasa tidak memperhatikan kepentingan para mahasiswa yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam, tdak tersalurnya aspirasi keagamaan merupakan alasan kuat bagi para mahasiswa Islam untuk mendirikan organisasi kemahasiswaan yang berdiri dan terpisah dari Persyerikatan Mahasiswa Yogyakarta. (tlk)

Akses radarbisnis.co.id Via Mobile m.radarbisnis.co.id
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Jl. Seroja Pekanbaru
TELP / HP : 081268162022 / 081276277120
Email: radarbisnisnews@gmail.com